Cara Rosulullah mengajar kepada para Sahabat


Kalian adalah umat terbaik yang dimunculkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah… (QS. Ali Imron : 110)

Latar Belakang

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa ala alihi wa sallam, adalah memang benar-benar seorang pengajar yang telah dipilih oleh Allah Ta’ala untuk mengajarkan pada manusia dan kemanusiaan terhadap agama Allah, dan syari’atnya yang pamungkas dan abadi. Dan tidak ada di dunia ini yang paling berharga bagi Allah Ta’ala selain Agamanya, Islam. Maka Allah pun memilih Nabi dan Rosul terbaik di antara sekian banyak utusannya, Nabi Muhammad, untuk menyebarkan dan mengajarkan agama-Nya itu.

Dan pengajar yang terpilih untuk menyampaikan syariat-Nya pada manusia ini, adalah seorang pengajar yang mengajar dengan tampilan fisik dan psikisnya, tindakan dan kata-katanya, dan semua kondisi beliau. Maka kesempurnaan kepribadiaannya sendiri, adalah salah satu metode beliau dalam mengajar murid-muridnya, agar mereka meniru sepertinya, dan mengikuti petunjuknya.

Cara Rosulullah Mengajar :

Menarik perhatian sahabat dengan memegang tangan atau pundaknya

  • Agar sang sahabat lebih menaruh perhatian terhadap apa yang diajarkannya, dan tentu agar lebih mengingatnya lagi; beliau S.a.w terkadang menggandeng sahabat itu, atau memegang tangannya, atau meletakkan tangan beliau di pundak sahabat itu.
  • Ibnu Mas’ud bercerita : “Rosululloh S.a.w mengajariku lafadz tahiyyat (seraya telapak tanganku ada dalam genggamannya) sebagaimana beliau mengajariku surat-surat dari Al-Qur’an”. (H.R. Bukhori-Muslim)
  • Begitu juga yang dituturkan Abdulloh bin Umar : “Rosululloh S.a.w memegang pundakku sembari bersabda : “Hendaknya kamu merasa hidup di dunia ini layaknya orang asing, atau pengembara, dan anggaplah dirimu selalu sebagai penduduk kuburan.” (H.R. Bukhori-Tirmidzy).
  • Atau seperti yang beliau lakukan pada Abu Dzar Al-Ghifari, saat bertanya tentang jika ada orang menunda-nunda sholat, Rosul S.a.w langsung menepuk paha Abu Dzar dan berkata : “Sholatlah pada waktunya”, (H.R.Muslim). yakni maksudnya jangan ditunda-tunda sampai hampir habis waktunya, apalagi jika sampai kehabisan waktu sholat.

Perintah mempelajari bahasa asing

  • Zaid bin Tsabit mengatakan demikian: “Rasulullah SAW pernah memerintahkan aku agar mempelajari tulisan bahasa Yahudi untuknya. Setelah aku dapat menguasainya dan Nabi SAW bermaksud berkirim surat kepada orang Yahudi, maka akulah yang menuliskannya buat mereka, dan apabila mereka berkirim surat kepada Nabi SAW maka akulah yang membacakan surat mereka kepada beliau.” (HR.Tirmidzi)
  • Pada hadits lain disebutkan bahwa Nabi Muhammad juga memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani (Syriac language). “Rasulullah SAW memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.” (HR. At-Tirmidzi: 2).
  • Alasan utama Rasulullah meminta Zaid bin Tsabit mempelajari kedua bahasa tersebut sudah jelas seperti penuturan Zaid bin Tsabit yaitu mempelancar komunikasi. Mengapa kedua bahasa itu yang dipilih Nabi untuk dipelajari karena kedua bahasa tersebut termasuk dua bahasa yang sangat berpengaruh pada saat itu. Sehingga memahami kedua bahasa tersebut akan sangat menguntungkan bagi dakwah Islam. Tentu, mempelajari bahasa tidak harus bertujuan dakwah semata. Untuk tujuan-tujuan lain seperti ekonomi dan keilmuan juga diperbolehkan.

Rosulullah SAW dan pendidikan kaum wanita

  • Mungkin terlintas pada pikiran sebagian dari kita, bahwa Nabi SAW memarginalkan pendidikan kaum wanita, sebab seolah-olah di kebanyakan situasi dalam hadits-hadits yang diriwayatkan, beliau hanya bersama sahabat-sahabatnya saja, yang kaum lelaki, tetapi tidak pernah dengan sahabiyat.
  • Tentu suatu anggapan dan prasangka yang sangat keliru dan tidak berdasar, apalagi Nabi Muhammad SAW diutus kepada manusia secara universal, mencakup semua jenis dan golongan.
  • Beliau bahkan punya waktu dan majlis khusus untuk mendidik kaum wanita, terutama seputar masalah kewanitaan (niswiyah). Sekaligus menuruti permohonan mereka yang meminta waktu khusus untuk belajar dengan beliau (HR.Bukhori Muslim).
  • Dan salah satu rahasia beliau menikahi Sayyidah A’isyah di usia yang sangat belia (sementara semua istri beliau yang lain beliau nikahi dalam keadaan janda), adalah dalam rangka pendidikan itu. Banyak hal masalah pribadi seputar wanita yang beliau lewatkan ibunda Aisyah ini, pun setelah beliau meninggal,  Aisyah terhitung di antara salah seorang yang banyak sekali menyampaikan hadits-hadits beliau pada ummat ini.

Isyarat dan Sindiran

  • Dalam kesempatan tertentu, untuk mengajarkan sesuatu yang tidak etis disebut langsung, Rosululloh S.a.w terkadang cukup menggunakan isyarat atau sindiran. Seperti ketika ada seorang wanita yang minta diajari tata cara bersuci dari menstruasi, beliau hanya berkata, “Kalian ambil air dan daun bidara, kalian pakai mandi, siram mulai dari atas kepala kalian, basuh semua tubuh kalian secara merata, sampai pangkal rambut juga, kemudian bilas tubuh kalian, setelah itu ambil kapas yang telah diberi wewangian, gunakan untuk membersihkan….”, Rosul SAW tidak meneruskan kalimatnya.
  • Wanita itu masih bertanya, “Bagaimana cara menggunakan kapas itu untuk membersihkan? (bagian mana yang harus dibersihkan dengan kapas itu)?”
  • Tentu Rosul S.a.w terperanjat dan berkata, “SubhanAllah ! Ya pakai kapas itu untuk membersihkan”. Aisyah, Istri beliau, lantas menarik wanita itu dan membisikinya, “(maksud beliau), bersihkan tempat keluarnya darah” (HR. Bukhori Muslim)

Menjawab setiap pertanyaan, dan menstimulasi murid untuk berani bertanya

  • Sebagai salah satu sifat pengajar yang baik, adalah menjawab dengan bijak setiap pertanyaan yang keluar dari murid, apapun jenis pertanyaan itu, dan mendorong mereka untuk selalu berpikir kritis dan berani bertanya. Sebab bisa jadi ada hal-hal yang penting yang tidak terlintas di hati pengajar, namun terlintas di benak muridnya yang berhubungan dengan materi yang sedang dibahas dan disampaikan.
  • Rosulullah SAW telah mencontohkan hal tersebut dan sangat menganjurkannya. Beliau bersabda: “Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya”.
  • Di Alqur’an surat Al-Nahl ayat : 43 disebutkan
  • “…maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.“
  • Sebuah pameo (peribahasa yang dijadikan semboyan)  terkenal mengatakan, “malu bertanya, sesat di jalan”.
  • Bahkan sebenarnya banyak sekali hukum, syariat, dan ajaran agama yang diajarkan Nabi S.a.w timbul terlebih dahulu melalui pertanyaan sahabat-sahabatnya sebelumnya. Dan atas anjuran ayat dan dorongan dari Nabi sendiri itulah, para sahabat pun banyak bertanya pada beliau akan hal-hal yang masih musykil dan kurang jelas. Dan kitab-kitab hadits penuh dengan contoh metode ini.
  • Sudah tentu merupakan hal yang wajar dan seharusnya terjadi jika dalam kegiatan belajar mengajar terjadi proses soal dan jawab. Dengan metode ini, dituntut adanya hubungan interaktif antara guru dan murid. Juga merupakan keharusan seorang guru untuk memberikan kesemangatan pada murid untuk berani bertanya, sebab dengan bertanya, terjadi perkembangan pesat pada otak dan membuka cakrawala berpikir si murid.

Menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih

  • Umumnya, jika ada satu pertanyaan, maka jawabannya pun juga satu. Namun terkadang Rosulullah SAW menjawab satu pertanyaan dengan dua jawaban atau lebih. Yang antara kedua jawaban itu saling ada korelasi dan kaitan satu sama lain. Atau juga dengan tujuan memberikan pelajaran tambahan.
  • Hal ini menunjukkan bagaimana besarnya perhatian beliau pada orang yang bertanya, dan tentu saja secara alamiah seorang murid akan sangat merasa diperhatikan oleh gurunya, jika guru itu memberikan jawaban lebih daripada yang dibutuhkan murid tadi, yang bisa berdampak positif pada perkembangan edukasi murid.
  • Contoh metode ini, Hadits riwayat Imam Malik dari Abu Hurairah: “Ada seseorang bertanya pada Rosulullah SAW :”Ya Rosul, ketika kita berlayar (di laut), kita hanya membawa sedikit bekal air minum. Jika kita berwudhu dengannya, nanti kita kehausan. Apakah boleh berwudhu dengan air laut?”
  • Rosululloh S.a.w menjawab : “(boleh), laut itu suci airnya, juga halal bangkainya”.
  • Nah, Rosul S.a.w menjawab pertanyaan nelayan tadi tentang hukum berwudhu pakai air laut, bahwa sesungguhnya airnya suci dan sah dipakai berwudhu, sekaligus beliau menambahi jawaban akan suatu hal penting yang tidak ditanyakan nelayan tadi, yaitu bahwa bangkai makhluk hidup yang berasal dari laut (seperti ikan) juga halal dimakan dan dimanfaatkan. Suatu hal yang pasti tentu saja terjadi di dunia pelayaran.
  • Contoh lain, hadits riwayat Muslim: Waktu itu sedang musim haji, ada seorang perempuan bertanya pada Nabi S.a.w, sembari dia mengangkat anaknya: “Wahai Nabi, apakah anak kecil ini sah juga hajinya?”
  • Beliau menjawab : “Iya, sah, dan kamu juga dapat pahalanya.”
  • Hal itu sebab si ibu tadi telah bersusah payah membawa anaknya yang masih kecil untuk menunaikan ibadah haji. Dan siapapun yang pernah haji tahu, bahwa haji adalah ibadah fisik yang sangat berat.

Untuk ilmu yang lebih banyak lagi silahkan teman-teman membaca referensi di bawah ini.

Referensi

Sekian artikel dari saya semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Cilangkap, 7-05-2013

GusnaNuri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: