Do’a Untuk Saudara Kami


doa

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala alihi Muhammad

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin laki-laki dan perempuan, mukmin laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha dekat dan Maha pengabulkan doa-doa.

Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami karena kelupaan dan kesalahan kami. Rabb kami, janganlah Engkau beri kami beban sebagaimana beban yang Engkau beri kepada para pendahulu kami. Rabb kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa-apa yang tidak kami sanggupi. Maafkanlah kami, ampunilah kami, sayangilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.

Ya Allah turunkanlah hukuman-Mu pada orang yang telah menzhalimi kaum muslimin dan para penolongnya yang telah melakukan kezhaliman dengan membunuh saudara-saudara kami kaum muslimin.

Ya Allah hukumlah mereka, sesungguhnya mereka tak mampu melemahkan-Mu. Ya Allah cerai beraikan mereka, porak porandakan kesatuan mereka, dan turunkanlah balasan-Mu atas mereka.

Ya Allah turunkanlah atas mereka dan semua pihak yang membantu mereka balasan-Mu yang tidak dapat ditolak oleh kaum yang berbuat kezhaliman.

Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah di Suriah. Ya Allah sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari pengepungan dan keadaan sempit yang mereka alami saat ini.

Ya Allah terimalah syuhada mereka dan sembuhkanlah yang sakit dan terluka dari kalangan mereka. Ya Allah karuniakanlah kebaikan pada mereka dan janganlah Engkau timpakan keburukan pada mereka karena tiada daya dan kekuatan bagi mereka kecuali dengan pertolongan-Mu.

Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di Suriah. Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di Palestina. Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di seluruh permukaan bumi.”

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala alihi Muhammad

Donasi :

Jendela Dunia :

 

“Sesungguhnya mukmin itu bersaudara” (QS. Al-Hujuraat : 10)

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhori dan Muslim)

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Cambuk Hati


sujud

Sangat banyak manusia ingin sukses…

Mereka mengartikan sukses dengan beberapa kategori:

  1. Karir cemerlang
  2. Pendapatan finansial tinggi
  3. Punya mobil mewah
  4. Punya rumah gedong
  5. Punya istri cantik jelita bak bidadari surga
  6. Punya anak banyak yang semua sukses; jadi dokter kah, bisnisman kah, konsultan kah, punya perusahaan kah, dll

Hampir semua yang sukses merasa bangga dengan capaian mereka tersebut. Seakan mereka mengira bahwa itulah tujuan utama kehidupan. Seakan mereka ingin mengabari dunia.

“Lihatlah diriku, pandangi kehidupanku, contoh langkahku, hormati kedudukan dan pencapaianku”

Allahu Akbar!

Sungguh rendah cita-cita ini.

Dunia…dunia…dunia…dan hanya dunia yang selalu memenuhi hati, pikiran, nafsu, dan ambisi ini.

Andai hidup ini hanya untuk dunia, Harusnya Fir’aun lebih mulia daripada Nabi Musa!

Andai capaian kesuksesan dunia itu istimewa, Harusnya Qorun, Hamman, dan Namrut lebih mulia dari pada Nabi Ibrahim dan Nabi Harun!!

Demi Allah!

Sungguh jiwa ini butuh cambuk!

Butuh cemeti yang setiap hari harus dipecutkan ke dalam jiwa ini.

Agar hati dan jiwa ini sadar, paham, dan mengerti.

Bahwa sungguh dunia hanya berhak diletakkan di tangan, bukan di hati…

Sungguh ibadah kepada Allah dengan ikhlas serta janji kebahagiaan surga di akhirat kelak lebih pantas untuk kita jadikan ambisi dan cita-cita di setiap pagi saat mata ini terbuka.

Ya Allah lindungilah hamba-Mu dari penyakit Wahn (cinta dunia takut mati)

Bimbinglah kami untuk selalu ingat akan tujuan kami di ciptakan di Dunia yang fana ini

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah (bertauhid) kepada-Ku (Terjemahan QS. Az-Zariyat: 56)⁠⁠⁠⁠

Nasehat Bulan Ramadhan


Bulan-Ramadhan-ri32

Jangan sia-sia kan bulan Ramadhan. tidak ada jaminan tahun depan kita bisa bertemu Ramadhan lagi. Ramadhan bulan taubat. Tidak ada perbuatan sekecil apapun yang tidak ada balasannya.

Waktu sahur penuh berkah. waktu yang baik untuk memohon ampun. sebelum makan sahur kita bisa sholat malam atau baca Al-Qur’an semampu kita. Al-Qur’an yang akan menjadi penerang dalam kubur.

Dunia tempat saling menasehati bukan saling membiarkan. karena di akherat tidak ada penolong selain amal sendiri.

Setiap do’a pasti Allah kabul. setiap taubat pasti Allah terima. hanya ada satu do’a dan taubat yg tidak akan dikabulkan Allah.

Dan, jika sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin” (QS. As-Sajadah : 12)

Membangun keluarga Qur’ani sejak dini


anakhafidzquranpalestina

 

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi : 46)

  1. Mengajarkan Al-Quran sejak usia 4 tahun.
  2. Menanamkan pemahaman dalam keluarga bahwa Al Quran adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat
  3. Jangan terlalu mengandalkan sekolah
  4. Dua per tiga keberhasilan Pendidikan itu ada di rumah
  5. Keberhasilan adalah hasil integrasi kedua orang tuanya. Lebih besar tanggung jawab seorang ayah dibanding ibu
  6. Rasulullah memanggil ayah dari anak yang mencuri. (berarti tanggung jawab orang tua sangat besar pada anak)
  7. Suami yang membangun visi dan istri yang mengisi kerangka itu.
  8. Imam Syafi’i ditinggal wafat ayahnya ketika berusia 6 tahun. Namun isi kepala sang ayah sudah pindah ke sang ibu. (betapa penting peran visioner seorang ayah)
  9. Al Banna dan sentuhan pendidikan sang ayah
  10. Qordhowi berkata, dahulu saya tidak tahu mengapa ayah mengkondisikan saya hafal al quran usia 1O tahun
  11. Ihtimam atau perhatian yang tinggi terhadap anak dan pendidikannya
  12. Perhatian dari A sd Z seperti kebersihan anak, memotong kuku, membersihkan telinga, dll
  13. Memiliki file-file khusus yang menyimpan catatan tentang anak, hasil ulangan, dll
  14. Kekayaan keluarga adalah anak dan buku. Setiap liburan, selalu mengajak anak-anak ke toko buku
  15. Visi yang ada di kepala kami adalah anak-anak kami semuanya harus menjadi hafidz Qur’an
  16. Keliling untuk melihat pesantren tahfidz terbaik
  17. Setiap hari diperdengarkan murottal
  18. Sang ibu mengajar sendiri dengan Qiroati
  19. Menjelang tidur selalu diceritakan kisah kisah para nabi dan rasul
  20. Membuat jadwal dalam papan besar untuk belajar Al quran bagi anak
  21. Setelah maghrib dan subuh adalah waktu interaksi dengan Al Qur’an
  22. Selalu menyemangati anak “Nak ibu/ayah bangga sekali dengan kamu, meskipun sulit tapi kamu disiplin menyetorkan hafalan 2 ayat setiap hari”
  23. Jangan lupakan membangun dakwah di keluarga besar. Saat all out keluar rumah, keluarga besar terlibat mengawasi anak-anak (seperti menjaga kebiasaan baik anak-anak)
  24. Rutin berkunjung ke keluarga besar untuk menjalin hubungan baik dengan mereka
  25. Kesulitan di masa pembentukan adalah faktor keistiqomahan. Harus konsisten mengontrol
  26. Memagari anak-anak dari pengaruh negatif. Ada agreement atau kesepakatan dengan anak-anak kapan saat menonton TV dan ada hukuman bila dilanggar
  27. Memberikan pemahaman “Nak, hafalanmu banyak, TV itu bisa memakan bagian pikiranmu”
  28. Syukur kami tiada henti padamu ya Robbi atas karunia anak-anak kami

Thanks to :

http://www.islamedia.co

Sekian sharing artikel dari saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

 

Cilangkap, 25-01-2015

GusnaNuri

Tipe teman atau lingkungan yang mempengaruhi keimanan


pic_islam

Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan teman yang shalih dengan yang buruk itu seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Berteman dengan penjual minyak wangi akan membuatmu harum karena kamu bisa membeli minyak wangi darinya atau sekurang-kurangnya mencium bau wanginya. Sementara berteman dengan pandai besi akan membakar badan dan bajumu atau kamu hanya akan mendapatkan bau tidak sedap” (HR. Bukhari Muslim)

Hadits ini berlaku untuk hubungan kita dengan teman atau dengan suatu lingkungan. Ukurlah diri kita. Sekiranya kita berada di tengah satu lingkungan yang tidak baik dan kita kuat untuk memberikan pengaruh kebaikan, maka bertahanlah di sana. Sebaliknya, jika di dalam lingkungan tersebut malah kita yang ikut tergerus kepada kemaksiatan, maka segeralah pindah. Segera berhijrahlah.

Ada lima tipe teman atau lingkungan. Kelima lingkungan itu adalah :

  1. Teman atau lingkungan yang bisa menjadi guru ibadah. Milikilah teman atau tinggallah di lingkungan yang bisa menambah kadar keimanan kita kepada Allah Swt. Milikilah teman atau tinggallah di dalam lingkungan yang bisa menambah kualitas keyakinan kita kepada Allah Swt. Tipe ini adalah teman yang baik atau lingkungan yang baik pula untuk ditinggali. Jika sulit mencari teman atau lingkungan seperti ini, simaklah tipe berikutnya.
  2. Teman atau lingkungan yang bisa dijadikan teman untuk berbadah. Ini adalah teman atau lingkungan yang tidak begitu banyak ilmunya, namun selalu bersemangat untuk mencari ilmu dan semangat untuk beribadah. Jika masih juga sulit mencari teman atau lingkungan seperti ini, lihat tipe berikutnya.
  3. Teman atau lingkungan yang bisa dijadikan murid ibadah. Teman atau lingkungan seperti ini mungkin tidak bisa mengajak, akan tetapi mau untuk belajar menjadi semakin baik. Jika masih juga sulit mencari tipe seperti ini, carilah tipe selanjutnya.
  4. Teman atau lingkungan yang tidak bisa menjadi guru ibadah, tidak bisa jadi teman ibadah, tidak bisa jadi murid ibadah, tapi ia tidak mengganggu kita saat melakukan ibadah. Dan jika tipe ini masih sulit ditemui, cukup hindarilah teman atau lingkungan dengan tipe berikut ini.
  5. Ini adalah tipe teman atau lingkungan yang tidak baik untuk didekati atau ditinggali. Yaitu teman atau lingkungan yang sangat kuat mempengaruhi kita untuk jauh dari ibadah atau melemahkan iman. Atau teman atau lingkungan yang diam-diam menyeret kita kepada kelalaian dan kemunafikan.

Kita harus memiliki keberanian untuk meninggalkan lingkungan yang membuat kita tidak semakin yakin terhadap Allah Swt. Kita harus punya keberanian untuk berhijrah, pergi meninggalkan lingkungan yang malah menjerumuskan kita kepada kemaksiatan, kemunafikan atau kekufuran.

Jangan ragu untuk keluar dari tempat kerja yang didominasi oleh perbuatan-perbuatan dosa yang tidak mampu kita lawan atau kita perbaiki. Jika takut kehilangan penghasilan, yakinlah sesungguhnya Allah Swt Maha Penjamin Rezeki.

Simaklah kembali pengorbanan Rasulullah Saw bersama para sahabat yang rela meninggalkan tanah kelahirannya, Mekkah, ke Madinah. Meski berat dilakukan, mereka tetap menempuhnya. Terbukti, hijrah kemudian menjadi pintu gerbang bagi kaum muslimin kala itu untuk meraih kesuksesan besar yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Hijrah pada dasarnya adalah bagaimana upaya kita untuk memperoleh keridhaan Allah Swt di dalam segala aspek kehidupan kita. Semangat hijrah adalah semangat kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan memberikan pengaruh kebaikan itu kepada orang lain dan lingkungan di sekitar kita.

Hijrah yang paling sederhana adalah menghijrahkan hati kita dari condong dan bersandar kepada makhluk, harta, kepada condong dan bersandar hanya kepada Allah Swt. Hijrah dari mengharap kepada makhluk, menjadi berharap hanya kepada Allah. Hijrah dari mendambakan sanjungan, pujian, penghargaan dari makhluk, kepada hanya mendambakan ganjaran dari Allah Swt.

Jika sudah demikian hijrah yang kita lakukan, niscaya Allah akan mencukupkan keperluan kita. Allah lebih mengetahui keperluan lahir batin kita dibandingkan diri kita sendiri. Jika kita sudah bertekad untuk melakukan hijrah, semoga itu menjadi gerbang kita menjadi manusia sukses yang bertauhid. Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Memiliki segala apa yang kita perlukan, dan Dia-lah Yang Maha Menentukan apapun yang terbaik untuk kita. Wallahua’lambishawab (dan Hanya ALLAH yang Maha Mengetahui).

Referensi :

http://www.smstauhiid.com/hijrah-dari-lingkungan-yang-tidak-kondusif-untuk-beribadah-kepada-lingkungan-yang-menguatkan-iman/

Belajar Istiqomah


1146684_609658132427028_523218496_n

Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku tentang Islam, suatu perkataan yang aku tak akan dapat menanyakannya kepada seorang pun kecuali kepadamu’. Bersabdalah Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : ‘Katakanlah : Aku telah beriman kepada Allah, kemudian beristiqamalah kamu’ (HR.Muslim)

Istiqomah adalah sebuah komitmen dalam menjalankan satu program untuk menuju satu tujuan. Istiqomah itu mengandung:

  1. Konsisten, sehingga secara terus menerus apa yang dianggap baik itu dijalankan.
  2. Tahan uji kepada godaan-godaan yang mungkin menjadi penghambat, menjadi halangan kita sampai pada tujuan yang cita-citakan.

Dalam kaitan dengan fokus, hidup ini dianjurkan oleh agama kita untuk memiliki tujuan. Allah berfirman bahwa tidak diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah pada-Nya. Itu tujuan hidup kita. Kemudian juga Allah mengingatkan bahwa kita diturunkan ke bumi sebagai umat yang terbaik. Tapi apa syaratnya untuk menjadi ummat yang terbaik? Syaratnya adalah fokus kepada sesuatu yang menjadi cita-cita hidup kita karena hal itu yang akan menggerakkan seluruh hidup kita ke arah cita-cita tersebut. Kalau gak tahu apa yang dituju, pasti akan goyah. Dapat ujian sedikit sudah limbung.

Istiqomah itu menyertai keimanan. Iman naik dan turun, ujian datang dan pergi. Lalu bisa juga disebut bahwa istiqomah itu salah satu ciri keimanan kita teruji atau tidak. Ketika kita tidak istiqomah, bisa dikatakan memang bahwa keimanan kita tidak teruji dengan baik. Memang istiqomah menjadi suatu kondisi, suatu benteng untuk menunjukkan ketundukan kita kepada Allah. Indikator keberagamaan kita atau ketakwaan itu memang ada pada sikap istiqomah. Menjalankan sesuatu, sendirian atau ramai-ramai, diberi reward tidak diberi reward, sikapnya sama saja. Itulah sikap orang yang istiqomah, yang dibalut dengan perilaku ikhlas sebagai hamba.

Di dalam beribadah, berjuang, dan berikhtiar harus istiqomah, berkesinambungan dan terus menerus. Karena keajaiban istiqomah ibarat tetesan air yang mampu melubangi batu besar. Jadi JANGAN PERNAH BERHENTI ! Jika anda berhenti itu sama halnya anda menyerah dan KALAH dengan diri anda sendiri.

Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang berkesinambungan, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ciri-ciri orang yang memiliki sifat istiqomah :

  • Konsisten dalam memegang teguh aqidah tauhid.
  • Konsisten dalam menjalankan ibadah baik mahdoh atau ghoiru mahdoh.
  • Konsisten dalam menjalankan syariat agama, baik berupa perintah maupun larangan.
  • Konsisten dalam bekerja, berusaha, dan berkarya, dengan tulus dan ikhlas karena Allah swt.
  • Konsisten dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Allah swt menjanjikan balasan yang besar kepada orang-orang yang istiqomah. “Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Ahqaf:13-14).

Referensi :

Sekian sharing artikel dari saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Pondok Ranggon, 04-01-2014

GusnaNuri

Cara mendidik anak sejak dini agar menjadi cerdas, sholeh, dan sholeha


anak-perancis

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At-Tahrim: 6)

Anak merupakan titipan bagi orangtuanya. Sebagai orangtua, kita harus bisa mengarahkan sang anak ke arah yang baik, yang diridhoi Allah SWT. Maka, kita harus bisa mendidik anak itu menjadi anak yang shaleh. Dengan memiliki anak shalehlah, hidup kita akan bahagia, karena memiliki anak yang bisa mendoakan kita. Insya Allah.

Untuk memiliki anak yang shaleh/ shalehah, perlu adanya kesabaran dalam mendidik anak. Kesabaran yang ekstra agar anak kita tumbuh menjadi anak yang berkualitas. Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi shaleh/shalehah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak Anda sejak dini:

1. Bangunkan shubuh sejak balita

Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

2. Berikan lingkungan pergaulan dan pendidikan yang Islami

Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini Anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak Anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus Islam di Masjid dan sebagainya.

3. Orang tua adalah teladan yang terbaik

Orangtua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak Anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak Anda untuk mengaji atau pergi shalat berjamaah, sedangkan Anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

4. Safari Masjid

Bawalah anak Anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan shalat berjamaah di hati anak.

5. Perkenalkan batasan aurat sejak dini

Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk mengubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.

Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

6. Ajarkan untuk membawa alat sholat

Agar sejak kecil anak rajin sholat, ada baiknya ingatkan dan siapkan perlengkapan sholat anak didalam tasnya, kemana pun anak pergi sediakanlah alat sholat tersebut, hal ini akan membuat kebiasaan yang baik pada anak.

7. Hindari mendengarkan lagu-lagu dewasa

Perlu Kita ketahui, jaman sekarang musik dewasa sangat mendominasi. bahkan ada beberapa penyanyi artis cilik yang sudah menyanyikan lagu-lagu cinta, nah lagu-lagu ini juga akan membentuk pola pikir yang tidak baik buat anak, mulai dari sekarang cegahlah untuk mendengarkan lagu-lagu dewasa, paling tidak bisa meminimalisir. Ada baikya memberikan musik-musik islami.

8. Perhatikan tontonan TV

Apa yang dia lihat maka itu yang akan dilakukan, itulah sifat dasar anak kecil. Maka dari itu sejak kecil perlihatkan anak dengan tontonan yang bermanfaat seperti kisah nabi, inspirasi. Hindari menonton tayangan TV yang mengandung hal tidak baik untuk pola pikir anak contohnya seperti film cinta-cintaan, sinetron, horor dan masih banyak lagi.

9. Jadilah keluarga untuk mendidik anak

Ciptakan suasana keluarga yang harmonis, berikan anak sebuah kehangatan dan ketentraman dalam sebuah keluarga, dan jika orangtua memiliki masalah ada baiknya hindari perselisihan di depan anak. Keluarga yang baik akan membentuk pribadi anak yang baik juga. keluarga yang baik adalah faktor utama yang akan menjadi panutan anak.

10. Berkomunikasi dengan Anak

Sering mengajak anak berkomunikasi dan memberikan banyak pengetahuan mengenai segala hal. Tentunya harus disesuikan dengan tahap perkembangan dan pertumbuhan sang anak itu sendiri.

3f6996aac9e075fdaf8d02dss-5975

Assalamu’alaikum Palestina

Referensi :

Sekian sharing artikel dari saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Cilangkap, 21-11-2014

GusnaNuri

%d bloggers like this: