Toko Online Menjual Buku Anak Islami


indonesia-membaca

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar(manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-Alaq 3-5)

 

Untuk Info Buku dan Harga Silahkan Kunjungi Fan Page Ri32 Community  atau kunjungi blog http://nafabooks.wordpress.com

Sekian dari kami semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Bogor, 24-01-2017

Kang Agus

Advertisements

Tahapan mendidik anak yang diajarkan Rosulullah


rosulullah

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. an-Nisaa’ : 9)

Setiap orangtua mendambakan anak yang shaleh/shaleha, cerdas, dan membanggakan, akan tetapi keinginan dan upaya yang dilakukan sering kali belum selaras.

Sebagai orangtua mungkin lebih banyak mengandalkan guru maupun tempat les untuk mencerdaskan anak-anak kita, padahal kunci cerdasnya anak, justru ada di rumah, ada pada kedua orangtua!

Orangtua perlu memahami bagaimana tahapan mendidik anak sesuai dengan usianya. Berikut ini adalah tahapan cara mendidik anak ala Rasulullah yang insya Allah dapat mencerdaskan anak-anak kita, baik secara intelektual maupun emosional.

1.  Mendidik anak usia 0 hingga 6 tahun: Perlakukan anak sebagai ‘raja’

Anak usia 0-6 tahun merupakan usia emas atau Golden Age.  Anak pada usia ini akan mengalami masa tumbuh kembang yang sangat cepat.  Percepatan tumbuh kembang ini bisa dirangsang dengan mainan.  Mainan akan sangat membantu agar anak menjadi anak yang cerdas.

Sedangkan Rasulullah sendiri menganjurkan kepada kita untuk senantiasa berlemah lembut terhadap anak kita yang masih berusia dari 0 hingga 6 tahun.  Memanjakan, memberikan kasih sayang, merawat dengan baik dan membangun kedekatan dengan anak merupakan pola mendidik yang baik.

Zona merah: Jangan marah-marah! Jangan banyak larangan, jangan rusak jaringan otak anak, pahami bahwa anak masih kecil dan yang berkembang adalah otak kanannya.

Jadikan anak merasa aman, merasa dilindungi dan nyaman bersama orangtua.  Ketika anak nakal maka janganlah membiasakan untuk dipukul supaya anak mau menurut.  Memukul ataupun memarahi anak pada usia ini bukanlah cara yang tepat.  Berikanlah kesempatan pada anak agar merasakan kebahagiaan yang berkualitas dimasa kecil.

2.  Mendidik anak usia 7 hingga 14 tahun: Perlakukan anak sebagai ‘tawanan perang’ / ‘pembantu’

“Perintahkan anak-anakmu untuk shalat saat mereka telah berusia 7 tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka berusia 10 tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)

Perkenalkanlah anak dengan tanggung jawab dan kedisiplinan pada usia ini.  Kita bisa melatihnya mulai dari memisahkan tempat tidurnya dan mendirikan shalat 5 waktu.

Pukullah anak ketika anak tidak mau mendirikan shalat.  Tapi bukan pukulan yang menyakitkan atau pukulan di kepalanya.  Atau kita bisa membuat sanksi-sanksi ketika anak melanggar, namun sanksi yang diberikan usahakan sesuai dengan kesepakatan antara anak dan orangtua.

anak-perancis

Zona kuning: Zona hati-hati dan waspada. Latih anak mandiri mengurus dirinya sendiri, missal cuci piring, cuci baju, menyetrika. Pelajaran mandiri ini akan bermanfaat banyak di masa depannya, untuk kecerdasan emosionalnya.

3.  Mendidik anak usia 15 hingga 21 tahun: Perlakukan anak seperti sahabat

Anak pada usia ini adalah usia dimana anak akan cenderung memberontak.  Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang baik kepada anak.  Fungsinya adalah agar kita bisa meluruskan anak ketika anak berbuat kesalahan, karena kita dekat dengan anak.

Zona hijau: sudah boleh jalan. Anak sudah bisa dilepas mandiri dan menjadi duta keluarga.

Timbulkan rasa nyaman pada anak bahwa kita orangtua namun bisa bersikap seperti sahabat setia.  Sahabat setia yang siap mendengar segala cerita dan curahan hati anak.

Masa ini adalah masa pubertas untuk anak-anak. Jangan sampai ketika anak-anak punya masalah namun mereka cari solusi dan cari curhat ke tempat orang lain.  Didiklah anak dengan membangun persahabatan meskipun kita adalah orangtuanya, agar anak tidak merasa bahwa kita adalah orang ketiga yang tidak boleh tahu tentang permasalahan dirinya.

Para orangtua juga dilarang untuk memarahi dan menghardik anak di hadapan adik-adiknya ataupun di depan kakak-kakaknya.  Maksudnya supaya harga dirinya tidak jatuh sehingga anak tidak merasa rendah diri. Jalinlah pendekatan yang baik kepada anak.

Referensi :

http://www.ummi-online.com/tahapan-mendidik-anak-ala-rasulullah.html

Sekian sharing artikel dari saya semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Cilangkap, 12-03-2015

GusnaNuri

Cara mendidik anak sejak dini agar menjadi cerdas, sholeh, dan sholeha


anak-perancis

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. At-Tahrim: 6)

Anak merupakan titipan bagi orangtuanya. Sebagai orangtua, kita harus bisa mengarahkan sang anak ke arah yang baik, yang diridhoi Allah SWT. Maka, kita harus bisa mendidik anak itu menjadi anak yang shaleh. Dengan memiliki anak shalehlah, hidup kita akan bahagia, karena memiliki anak yang bisa mendoakan kita. Insya Allah.

Untuk memiliki anak yang shaleh/ shalehah, perlu adanya kesabaran dalam mendidik anak. Kesabaran yang ekstra agar anak kita tumbuh menjadi anak yang berkualitas. Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi shaleh/shalehah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak Anda sejak dini:

1. Bangunkan shubuh sejak balita

Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

2. Berikan lingkungan pergaulan dan pendidikan yang Islami

Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini Anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak Anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus Islam di Masjid dan sebagainya.

3. Orang tua adalah teladan yang terbaik

Orangtua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak Anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak Anda untuk mengaji atau pergi shalat berjamaah, sedangkan Anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

4. Safari Masjid

Bawalah anak Anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan shalat berjamaah di hati anak.

5. Perkenalkan batasan aurat sejak dini

Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk mengubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.

Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

6. Ajarkan untuk membawa alat sholat

Agar sejak kecil anak rajin sholat, ada baiknya ingatkan dan siapkan perlengkapan sholat anak didalam tasnya, kemana pun anak pergi sediakanlah alat sholat tersebut, hal ini akan membuat kebiasaan yang baik pada anak.

7. Hindari mendengarkan lagu-lagu dewasa

Perlu Kita ketahui, jaman sekarang musik dewasa sangat mendominasi. bahkan ada beberapa penyanyi artis cilik yang sudah menyanyikan lagu-lagu cinta, nah lagu-lagu ini juga akan membentuk pola pikir yang tidak baik buat anak, mulai dari sekarang cegahlah untuk mendengarkan lagu-lagu dewasa, paling tidak bisa meminimalisir. Ada baikya memberikan musik-musik islami.

8. Perhatikan tontonan TV

Apa yang dia lihat maka itu yang akan dilakukan, itulah sifat dasar anak kecil. Maka dari itu sejak kecil perlihatkan anak dengan tontonan yang bermanfaat seperti kisah nabi, inspirasi. Hindari menonton tayangan TV yang mengandung hal tidak baik untuk pola pikir anak contohnya seperti film cinta-cintaan, sinetron, horor dan masih banyak lagi.

9. Jadilah keluarga untuk mendidik anak

Ciptakan suasana keluarga yang harmonis, berikan anak sebuah kehangatan dan ketentraman dalam sebuah keluarga, dan jika orangtua memiliki masalah ada baiknya hindari perselisihan di depan anak. Keluarga yang baik akan membentuk pribadi anak yang baik juga. keluarga yang baik adalah faktor utama yang akan menjadi panutan anak.

10. Berkomunikasi dengan Anak

Sering mengajak anak berkomunikasi dan memberikan banyak pengetahuan mengenai segala hal. Tentunya harus disesuikan dengan tahap perkembangan dan pertumbuhan sang anak itu sendiri.

3f6996aac9e075fdaf8d02dss-5975

Assalamu’alaikum Palestina

Referensi :

Sekian sharing artikel dari saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Cilangkap, 21-11-2014

GusnaNuri

Kesabaran dalam Mendidik Anak


parenting

Merawat dan mendidik anak itu butuh bergunung-gunung kesabaran. dari pagi sampai malam kita harus menghadapi tingkah pola anak yang tak ada habisnya.

Anak adalah ujian bagi orangtuanya. Jika kita mampu bersabar dalam mendidik mereka tentu akan ada balasan pahala, dan kelak kita akan menuai buah dari kesabaran yang manis bagaikan madu. Yaitu ketika mereka telah dewasa, kala mereka telah terbiasa dan terdidik dengan kebaikan yang kita ajarkan dan mereka menjadi manusia yang taat pada Rabbnya.

Do’a-do’a yang selalu mereka panjatkan untuk kita adalah harta dan investasi yang tak ternilai harganya. berikut adalah contoh kesabaran dalam mendidik anak :

1. Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anak.

Salah satu bagian dari kesabaran yang dijelaskan para ulama adalah kesabaran dalam melakukan ketaatan pada Allah. Sabar dalam mengajarkan kebaikan pada anakpun termasuk dalam kategori ini. mengajarkan kebaikan membutuhkan kesabaran seorang ibu dan ayah. mengajarkan doa-doa harian, adab dan akhlak yang baik, menghafal Qur’an, dan lain sebagainya.

2. Sabar dalam menjawab pertanyaan anak

Dalam masa tumbuh kembangnya, anak akan mengalami fase dimana ia akan selalu bertanya tentang hal-hal disekelilingnya mulai dari hal yang besar sampai hal-hal yang sepele. Jangan keluhkan hal ini, wahai Ibu dan Ayah! bersabarlah menjawab setiap pertanyaan anak kita karena dengan anak bertanya kepada kita, sesungguhnya ia menaruh kepercayaan pada kita sebagai orang tuanya.

Jika kita ogah-ogahan atau malah marah-marah dengan pertanyaan yang anak lontarkan maka anak mungkin akan jera bertanya lagi dan ia tak akan menaruh kepercayaan lagi pada kita sehingga akan bertanya pada orang lain. Lalu apa jadinya, jika ia bertanya pada orang yang tidak tepat sehingga mendapatkan jawaban yang berbahaya bagi dirinya dan agamanya?

3. Sabar menjadi pendengar dan teman yang baik

Termasuk sifat sabar dalam mendidik anak adalah menjadi pendengar yang baik. Jangan pernah menganggap remeh curhatan anak kita, dengarkan dan komentari dengan bijak serta sisipi dengan nasehat.

4. Sabar ketika emosi memuncak

Menghadapi kelakukan anak yang terkadang nakal memang menjengkelkan. Saat inilah dibutuhkan kesabaran. Jika amarah itu datang, cobalah sementara untuk menjauh dari anak hingga emosi kita mereda. Setelah reda, baru dekati anak lagi, dan cobalah menasehatinya. Menasehati anak sambil marah-marah tidak akan ada gunanya dan tidak akan memberikan kesadaran pada anak.

5. Sabar jika ikhtiar kita dalam mendidik anak belum ada hasil maksimal

Bersabarlah jika belum ada hasil yang maksimal dalam mendidik anak kita. Ingatlah bahwa Allah akan selalu melihat proses bukan hasil. Selalu berdo’a agar anak-anak kita menjadi anak yang shalih-shalihah.

Artikel ini saya kutip dari majalah Lentera Ummat Edisi Oktober 2014 / Dzulhijjah 1435H.

Sekian sharing artikel dari saya, semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…Aamiin

Cilangkap, 28-10-2014

GusnaNuri

%d bloggers like this: