Konsep Rezeki dalam Islam


Ri32-Rezeki-Allah

Yang kerja keras belum tentu mendapat banyak
Yang kerja sedikit belum tentu mendapat sedikit

Karena sesungguhnya sifat Rezeki adalah mengejar, bukan dikejar

Rezeki akan mendatangi
bahkan akan mengejar
hanya kepada orang yang pantas didatangi…

Maka, pantaskan dan patutkan diri untuk pantas didatangi, atau bahkan dikejar rezeki
Inilah hakikat ikhtiar

Setiap dari kita telah ditetapkan rezekinya sendiri-sendiri
Karena ikhtiar adalah kuasa manusia, namun rezeki adalah kuasa Allah Azza Wajalla

Dan manusia tidak akan dimatikan, hingga ketetapan rezekinya telah ia terima seluruhnya.

Ada yang diluaskan rezekinya dalam bentuk harta,
Ada yang diluaskan dalam bentuk kesehatan,
Ada yang diluaskan dalam bentuk ketenangan, dan keamanan,
Ada yang diluaskan dalam kemudahan menerima ilmu,
Ada yang diluaskan dalam bentuk keluarga dan anak keturunan yang shalih,
Ada yang dimudahkan dalam amalan dan ibadahnya.

Dan yang paling indah, adalah diteguhkan dalam hidayah Islam

Hakikat Rezeki bukanlah hanya harta
Rezeki adalah seluruh rahmat Allah SWT

Advertisements

Konsep dan Pengenalan Integrasi


Kebutuhan integrasi akan selalu diperlukan, baik direncanakan ataupun tidak. Sejalan dengan pembentukan proses bisnis baru maka kebutuhan integrasi akan selalu mengikutinya. Apakah Anda memilih solusi integrasi yang cepat namun menyulitkan di kemudian hari atau “bersakit-sakit dahulu“ untuk mendapatkan manfaat besar di kemudian hari? Semua keputusannya ada di tangan Anda.

Mengapa perlu integrasi?

Banyak alasan mengapa suatu organisasi membutuhkan integrasi. Berikut ini adalah beberapa keputusan bisnis yang bisa memicu perlunya integrasi:

  • Merger dan Akuisisi (M&A). Untuk mendapatkan manfaat M&A maka sistem yang menangani transaksi yang serupa harus digabungkan.
  • Reorganisasi internal. Meskipun efeknya tidak sedramatis M&A tapi hal ini lebih sering terjadi
  • Data yang tidak konsisten/duplikasi/tersebar.
  • Strategi bisnis baru. Misalnya sebuah bank yang sebelumnya menerapkan online banking melalui sms, dapat memberikan layanan pembelian pulsa telepon seluler melalui sms.
  • Menyesuaikan dengan aturan pemerintah.

Level Integrasi

  • Integrasi data, penekanannya pada integrasi data dan biasanya berupa sinkronisasi content dari berbagai basisdata. Masalah utamanya adalah penyatuan skema antar data dan arti masing-masing elemen data.
  • Integrasi message, penekanannya pada pertukaran message antar aplikasi. Masalah utamanya adalah konversi data ke dalam message yang disepakati dan transformasi dalam berbagai format yang dimengerti oleh aplikasi.
  • Integrasi komponen, penekanannya pada membungkus aplikasi lama (legacy system) menggunakan teknologi komponen (CORBA, .NET, atau J2EE) dan menggabungkan komponen melalui interface. Masalah utamanya adalah integrasi antara model komponen yang berbeda.
  • Integrasi aplikasi, mengintegrasikan aplikasi menggunakan API yang dipublikasikan, format message, skema basisdata, atau teknik lainnya. Masalah utamanya adalah penyatuan model data antar aplikasi.
  • Integrasi servis, penekanannya pada pembuatan servis bisnis abstrak yang tidakterikat pada basis data, model komponen, atau paket aplikasi tertentu. Masalah utamanya adalah kesiapan artitektur integrasi sehingga interface servis dapat benar-benar dipisahkan dari implementasi di bawahnya.
  • Integrasi proses, penekanannya pada pembentukan proses bisnis baru dengan mengintegrasikan aset yang sudah ada (data, komponen, aplikasi, dan servis). Masalah utama dari integrasi ini adalah membutuhkan kesepakatan antar organisasi mengenai proses bisnis dan kesiapan infrastrukturnya.
  • Integrasi antar muka, salah satu pendekatannya adalah dengan membuat portal sebagai layer presentasi aplikasi lama. Masalah utama dari pendekatan portal adalah hanya menyelesaikan sebagian (antar muka) saja dari masalah integrasi yang lebih besar.
  • Integrasi B2B, penekanannya pada otomasi proses dan servis bisnis antar dua organisasi atau lebih. Masalah utamanya adalah ketika semakin banyak organisasi yang terlibat maka akan semakin kompleks.

Dua Pendekatan

Dalam kerangka pengembangan servis maka pendekatan integrasi adalah menggunakan Web Service dan XML. Ada dua pendekatan yaitu:

  • Web Service Integration (WSI), penerapan web service yang taktis dan oportunistik untuk menyelesaikan masalah integrasi dan interoperability.
  • Service-Oriented Integration (SOI), integrasi dengan pendekatan yang lebih strategik dan sistematis.

Kedua pendekatan ini sama-sama dibangun di atas XML, SOAP dan WSDL yang merupakan standar web service. Keduanya menggunakan teknologi yang sama, namun pendekatan SOI lebih strategis dan sistematik berdasarkan prinsip-prinsip Service Oriented Architecture (SOA). Sebagai contoh, kedua pendekatan bisa saja menggunakan UDDI sebagai service registry. Pada WSI masing – masing service memiliki registry yang belum tentu konsisten secara keseluruhan, sedangkan pada pendekatan SOI akan dibuat sebuah registry yang memenuhi kebutuhan semua service.

Web Service Integration

WSI cenderung lebih taktis dan digunakan untuk proyek yang memerlukan hasil yang cepat dan tidak terlalu memikirkan jangka panjang. Biasanya hanya melibatkan sedikit sistem yang harus diintegrasikan. Implementasinya adalah dengan mendefinisikan pertukaran data yang  diperlukan dan kemudian membentuk SOAP message. Kemudian didefinisikan WSDL yang meliputi interface, operasi dan message exchange pattern yang harus ditaati oleh service-service yang terlibat.

Keuntungan pendekatan WSI adalah kecepatan implementasinya (untuk integrasi sistem dalam jumlah kecil), dan biaya integrasi yang lebih murah. Tetapi pendekatan ini juga memiliki keterbatasan. Karena pendekatannya yang lebih taktis maka beberapa hal seperti masalah keamanan (security) dan manajemen transaksi hanya akan ditangani secara ad-hoc sesuai kebutuhan. SOAP message juga dikirim langsung ke transport-level yang dipilih sehingga akan sulit jika dipindahkan ke alternatif lain jika diperlukan.

Service-Oriented Integration

Pendekatan SOI adalah integrasi web service dalam kerangka SOA. Pendekatan ini akan lebih dipilih oleh organisasi yang menginginkan investasi jangka panjang dalam integrasi sistemnya. Bebeda dengan pendekatan WSI, pada pendekatan SOI maka sebelum proyek integrasi dimulai harus dilakukan fase untuk menentukan aturan yang akan dipakai pada implementasi integrasi selanjutnya. Pada fase ini akan dihasilkan aturan tentang framework, proses, model, dan tools yang digunakan serta ketegorisasi service misalnya dengan menyatukan service service yang melakukan hal yang serupa.

Proyek integrasi dengan pendekatan SOI akan meliputi:

  • Evaluasi data model yang sudah ada untuk mengakomodasi integrasi
  • Mendefinisikan service lebih dari sekedar WSDL, seperti aturan bisnis, kebijakan keamanan, manajemen versi, dan sebagainya
  • Membentuk wrapper bagi sistem lama agar memenuhi standar integrasi yang disepakati
  • Mendefinisikan pemetaan data antar model data yang berbeda
  • Menyesuaikan kebutuhan eksekusi, contohnya kebutuhan transaksi dan jaminan pengiriman message

Pada tahap awal akan dibentuk data, service dan model yang disimpan pada repository metadata. Proyek-proyek integrasi selanjutnya akan menggunakan kembali data ini sehingga akan diperoleh definisi yang konsisten antar sistem secara global.

Keuntungan pendekatan ini adalah adanya model data, service dan proses yang dapat digunakan kembali sehingga memudahkan proyek integrasi selanjutnya. Selain itu beberapa hal seperti keamanan dan manajemen transaksi menjadi konsisten untuk semua sistem yang terintegrasi.

Kerugiannya adalah biaya awal yang cukup besar dan waktu yang lama untuk implementasi awal. Selain itu memerlukan sumber daya manusia yang mampu merancang kebutuhan sistem untuk masa mendatang.

Kesimpulan

Integrasi bukanlah masalah yang sederhana karena harus menyatukan banyak persoalan, dan juga teknologi, produk dan proses yang berbeda yang telah digunakan lama sebelumnya. Web service menawarkan dua pendekatan yaitu WSI dan SOI. Pendekatan WSI lebih taktis dan oportunistik, sementara SOI cenderung lebih strategis dan sistematik. Implementasinya bisa dipilih diatara kedua pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan bisnis dan teknis serta tujuan yang ingin dicapai dari integrasi itu sendiri.

Referensi

http://files.mhs.omahijo.net

Pengenalan Konsep Dasar ITIL v3


Ri32

Definisi

Information Technology Infrastructure Library (ITIL) merupakan sebuah kerangka dalam pengelolaan Teknologi Informasi (TI). ITIL dibuat oleh Central Computer and Telecommunication Agency (CCTA) di Inggris yang kemudian berubah menjadi Office of Government Commerece (OGC) atau setingkat dengan Departemen Perdagangan di Indonesia. Permulaan dibuatnya ITIL berawal dari:

  • Investasi TI dirasakan sangat mahal
  • Pengelolaan TI terlihat sebagai Black Box bagi bisnis dan manajemen organisasi
  • Pengelolaan TI semakin rumit
  • Bisnis dan pengguna layanan semakin menuntut adanya sebuah kualitas layanan yang baik

Versi ITIL

  • Versi 1 : Akhir 80-an dan awal 90-an, terdiri dari lebih 40 buku/publikasi, dan merupakan Dokumentasi Best Practice.
  • Versi 2 : Dikembangkan awal tahun 90-an sampai tahun 2004, terdiri dari 7 buku, dan tujuannya untuk menjembatani antara teknologi dan bisnis.
  • Versi 3 : Mulai dikembangkan dari tahun 2004 – 2007, terdiri dari 5 buku yang disebut CORE Books, dan integrasi antara IT dan Bisnis.

Tujuan ITIL

  • Memberikan panduan dalam pengelolaan layanan IT berdasarkan best practice
  • Menyelaraskan IT dengan kebutuhan organisasi
  • Menggunakan pendekatan kualitas dalam pengelolaan: People (SDM), Processes (Proses), dan Technology (Teknologi)

ITIL versi 3 dibuat untuk mengangkat posisi TI menjadi sejajar dengan bisnis (organisasi). ITIL versi 3 juga menyempurnakan proses-proses dan fungsi dalam ITIL versi 2 serta mengubah sudut pandang dari tata kelola TI berbasis proses menjadi berbasis layanan.

Pada 30 Juni 2007, OGC menerbitkan versi ketiga ITIL (ITIL v3) yang intinya terdiri dari lima bagian dan lebih menekankan pada pengelolaan siklus hidup layanan yang disediakan oleh teknologi informasi. Kelima bagian tersebut adalah:

  1. Service Strategy
  2. Service Design
  3. Service Transition
  4. Service Operation
  5. Continual Service Improvement

Service Strategy(SS) memberikan panduan kepada pengimplementasi ITSM pada bagaimana memandang konsep ITSM bukan hanya sebagai sebuah kemampuan organisasi (dalam memberikan, mengelola serta mengoperasikan layanan TI), tapi juga sebagai sebuah aset strategis perusahaan. Panduan ini disajikan dalam bentuk prinsip-prinsip dasar dari konsep ITSM, acuan-acuan serta proses-proses inti yang beroperasi di keseluruhan tahapan ITIL Service Lifecycle.

Service Design(SD) Agar layanan TI dapat memberikan manfaat kepada pihak bisnis, layanan-layanan TI tersebut harus terlebih dahulu di desain dengan acuan tujuan bisnis dari pelanggan. Service Design memberikan panduan kepada organisasi TI untuk dapat secara sistematis dan best practice mendesain dan membangun layanan TI maupun implementasi ITSM itu sendiri. Service Design berisi prinsip-prinsip dan metode-metode desain untuk mengkonversi tujuan-tujuan strategis organisasi TI dan bisnis menjadi portofolio/koleksi layanan TI serta aset-aset layanan, seperti server, storage dan sebagainya.

Service Transition(ST) Service Transition menyediakan panduan kepada organisasi TI untuk dapat mengembangkan serta kemampuan untuk mengubah hasil desain layanan TI baik yang baru maupun layanan TI yang diubah spesifikasinya ke dalam lingkungan operasional. Tahapan lifecycle ini memberikan gambaran bagaimana sebuah kebutuhan yang didefinisikan dalam Service Strategy kemudian dibentuk dalam Service Design untuk selanjutnya secara efektif direalisasikan dalam Service Operation.

Service Operation(SO) Service Operation merupakan tahapan lifecycle yang mencakup semua kegiatan operasional harian pengelolaan layanan-layanan TI. Di dalamnya terdapat berbagai panduan pada bagaimana mengelola layanan TI secara efisien dan efektif serta menjamin tingkat kinerja yang telah diperjanjikan dengan pelanggan sebelumnya. Panduan-panduan ini mencakup bagaiman menjaga kestabilan operasional layanan TI serta pengelolaan perubahan desain, skala, ruang lingkup serta target kinerja layanan TI.

Continual Service Improvement(CSI) memberikan panduan penting dalam menyusun serta memelihara kualitas layanan dari proses desain, transisi dan pengoperasiannya. CSI mengkombinasikan berbagai prinsip dan metode dari manajemen kualitas, salah satunya adalah Plan-Do-Check-Act (PDCA) atau yang dikenal sebagi Deming Quality Cycle

Thaks to :

Sekian artikel dari saya semoga bermanfaat untuk teman-teman dan anda semua…aamiin

Cilangkap, 9-03-2013

GusnaNuri

%d bloggers like this: